Saturday, September 20, 2014

kerinduan

air mata tak dapat terbendung lagi, menetes membasahi pipi. Mengalir hangat bersama kerinduan yang mendalam. Rindu akan sosok yang sangat berharga di dalam hidupku. Dia adalah Ibu, pelita hidupku sepanjang masa. Tak pernah lelah menyayangi dan mengasihiku. Dari sejak pertama aku bisa merasakan dunia, kelembutan tangannya yang senantiasa menjagaku seakan tak ingin aku tergores sedikitpun. Hingga aku mulai tumbuh, mulai mengenal isi dunia, beliau setia mendampinngiku seorang diri. Mengajarkan aku dan membimbingku untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Dari tengkurap, merangkak, berbicara, berjalan, setiap perkembangan itu tak pernah luput dari pengawasannnya. Tak pernah ada kata lelah darinya. Kini aku mulai tumbuh menjadi gadis dewasa. Tumbuh menjadi gadis yang sudah mengenal taggung jawab. Tanggung jawab belajar untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Menjadi manusia yang lebih baik dari ibu, kata itulah yang sering keluar dari mulut ibu. Tetapi rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Kesuksesanku nantinya karena kesuksesan ibu dalam mendidikku. Dan kehebatanku karena hebatnya ibu dalam meyakinkanku untuk tetap beertahan dalam segala situasi.

Bertahan dalam kejamnya hidup di kota perantauan. Kota yang sebelumnya tidak pernah aku sambangi. Tetapi demi kesuksesan aku harus bertahan di tempat ini seorang diri. Menahan gejolak jiwa yang seakan memberontak untuk segera kembali ke kampung halaman. Menahan rindu yang sangat menusuk, rindu akan semua yang menghiasi hidupku disana, rindu akan permata hidup yang senantiasa mendampingiku. Tetapi rasanya aku harus menjadi seorang pembohong besar. Aku harus menyimpan serapi mungkin isak tangis yang memberontak ingin keluar ketika aku mendengar hangatnya perkataan ibu. Aku harus berkata bahwa aku baik-baik saja dan aku nyamaan disini walaupun dalam hatiku memberontak dan air mataku tak dapat terbendung. Aku sadar bahwa sebenarnya ibuku juga merasakan hal yang sama.

Thursday, September 18, 2014

Untukmu Sahabat

Sahabat..
masih ingatkah saat-saat pertama kali kita bertemu??
tak pernah terfikir sedikitpun dibenakku, pertemuan itu adalah awal memori indah
memori tantang indahnya cinta kasih persahabatan.
aku dan kamu memiliki latar belakang yang berbeda
kita juga memiliki sifat yang berbeda.
mungkin bayak orang yang bertaanya-tanya tentang kedekatan kita.
kebersamaan kita ibarat pena yang senantiasa menuliskan cerita di kertas.
entah itu cerita indah ataupun sebaliknya


sahabat..
langkah kakiku yang awalnya berat
langkah kakiku yang seakan kaku dan tak mampu lagi untuk beranjak
tanpa aku sadari kaki ini mulai ringaan untuk melangkah
melagkah menggapai bintang bersamamu,


sahabat...
ketika hatiku kaku, hatiku pilu
hatiku rindu akan orang-orang yang berharga di dalam hidupku.
engkau tak pernah lelah menghapus air mataku,
menggantikan air mata rindu menjadi seuntai senyuman indah,
senyuman yang menyadarkanku bahwa disisiku ada malaikat yang sagat berharga dihidupku

sahabat.....
ketika tangan ini mulai lelah.
kau tak pernah berhenti untuk menggenggamnya,
memeluk erat diri ini seakan tak ingin terlepas
menyalurkan hangatnya cinta kasih
cinta kasih yang seakan mengobati semua rasa lelah


sahabat,
ketika air mata ini tak dapat terbendung lagi,
mengingat memori indah yang terekam.
aku hanya berharap ini adalah air mata bahagia
air mata bangga dan bersyukur
bersyukur karena Tuhan menganugerahkan sosok sepertimu

sahabat..
mungkin khilafku sering menggores hatimu,
tapi sungguh jauh di lubuk hatiku, namamu tersimpan dengan jelas
memori-memori bersamamu tertata rapi di dalam hatiku,
aku hanya bisa berharap Tuhan akan selalu meridhoi setiap langkah kita.
 langkah yang tak selalu berjalan dengan mulus
terkadang salah satu dari kita tersandung bebatuan
tetapi ingatlah tangan ini tak akan lepas untuk membantu bangkit dan berdiri lagi
berjalan bersama dalam menggapai asa. ..

Dendam Pembawa Penyakit Hati

Dendam. kata itu yang sering muncul ketika hati tersakiti oleh orang lain. ketika hati tak mampu mengucapkan kata maaf, walaupun lisan sudah berucap memaafkan. dendam adalah pembawa penyakit hati yang lama-kelamaan dapat meggerogoti jiwa manusia. suudzon, iri merupakan penyakit hati yang muncul ketika manusia tidak bisa meghindari dendam. sungguh jauh lebih mulia ikhlas memaafkan kesalahan orang lain dan berusaha introspeksi diri. tidak selamanya manusia itu benar pasti manusia pernah salah dan khilaf. tidak ada manusia yang sempurna. karena sejatinya kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.