Wednesday, November 11, 2015

Putri Kecil yang Merindukan Ayah



Ayah…
Kekosongan menyelimuti hati
Hampa, mencekam seakan tak ada lagi secercah cahaya.
Hari yang aku lewati buram, tak berwarna seperti yang lain.
Saat mereka bercanda bersama kedua pelita hidupnya,
Aku hanya bisa membisu dan berandai-andai
Saat mereka dimanjakan laki-laki terhebatnya,
Aku hanya bisa memanjakan mataku dengan linangan air mata.
Saat mereka tidur dalam pelukan pahlawan terhebatnya,
Aku hanya bisa memeluk bayangmu,

Ayah…
Aku hanyalah malaikat kecilmu yang rapuh
Aku tak sekuatmu yang mampu menghadapi dunia ini tanpa mengeluh.
Aku hanya seorang putri kecil yang sangat mendambakan sosokmu
Hidup tanpamu bisa aku lewati,
Bahagia tanpamu itu sebuah kebohongan,
Dan sempurna tanpamu itu suatu hal yang mustahil.

Ayah….
Andai kau tau, setiap detikku membutuhkanmu,
Setiap langkahku mengingat bayangmu,
Dan setiap tetesan air mataku adalah ungkapan rasa rinduku padamu,
Aku harus menghadapi berjuta detik tanpamu,
Aku harus melewati beribu langkah dengan bayanganmu,
dan air mataku mengalir deras sederas rinduku

Ayah….
Andai Tuhan memberiku satu kesempatan.
Aku hanya ingin merasakan kasihmu,
Merasakan hangatnya pelukanmu,
Dan merasakan indahnya dunia bersama Ayah dan Ibu.
Tapi aku tahu semua itu hanya angan.
Kasih Tuhan padamu jauh lebih besar
Apa dayaku, aku hanyalah makhlukNYa
Aku tak mungkin melarang Tuhan untuk menyayangimu.

Ayah….
Walau aku tak pernah merasakan damainya sentuhanmu,
Aku tak pernah mendengar nasehatmu,
Tapi aku yakin kasihmu begitu besar padaku
Begitu juga aku,
Walau aku tak mengenalmu,
Tapi hatiku jauh lebih mengenalmu.
Aku menyayangimu melebihi aku menyayangi diriku sendiri
Aku selalu menyebutmu dalam doaku
Aku berusaha memelukmu walau hanya bayangan dirimu.

Ayah….
aku tak bisa berharap lebih selain kau tenang di tempat peristirahatanmu
Aku disini baik-baik saja,
Aku akan berjuang walau tanpamu
Dan aku akan meraih mimpiku,
Aku akan membuatmu bangga terhadap putri kecilmu
Yang tak pernah merasakan hangat pelukmu

Selamat Ulang Tahun Ayah…..
Peluk cium dari putrimu tercinta…..
Semoga kau dapat melihat kesuksesan putrimu nanti dari surga
LOVE YOU AYAH…….

Tuesday, October 21, 2014

Tempat Tidur Abadi Ayahku



Sore hari yang indah Aku bersama Ibuku menonton salah satu acara televisi yang menayangkan beberapa tempat liburan. Namaku Nira, waktu itu aku baru berusia 8 tahun. Aku tertarik dengan salah satu permainan yang ditayangkan yaitu “halilintar”. Karena penasaran dengan perminan itu aku mengajak Ibu untuk pergi kesana, dan anehnya Ibuku langsung menyetujui padahal permainan itu berada di kota Jakarta. Kata Ibu sekalian kita akan berlibur ke Bandung juga
Bandung adalah kota kelahiran Ayahku. Sejak Ibu memutuskan untuk menetap di Jawa dan Ayahku tetap bekerja di Bandung, Aku hanya tinggal bersama Ibu. Terakhir aku bertemu dengan ayahku ketika aku berusia 1 tahun. Itupun kata Ibu karena aku sudah tidak ingat lagi. Jadi aku berpikir liburan kali ini Aku akan bertemu dengan Ayahku.
Liburan semester yang ditunggu akhirnya datang. Aku dan Ibu bersiap berangkat ke Bandung. Setelah menempuh peerjalanan sekitar 8 jam menggunakan kereta akhirnya Aku dan Ibu sampai di kota  Bandung.
sesampainya di kota Bandung Ibuku mengajakku kerumah Adik sepupu dari Ayahku, Om Asep namanya. Setelah istirahat sejenak aku diajak oleh Tante Ating, istri dari Om Asep untuk jalan-jalan desikitar rumah aku hanya mengiyakan. Sekembalinya Aku kerumah Om Asep aku melihat wajah Ibuku sedih dan matanya sembab seperti habis menangis. Tetapi Aku tidak memperdulikan itu. Merasa capeknya sedikit hilang, Aku ingat kalau Ibu janji akan megajakku liburan ke arena bermain yang berada di Jakarta. Aku langsung mengajak Ibu ke Jakarta agar bisa segera pergi ke arena bermain.
Setelah 3 hari Aku menginap di rumah saudara Ibu yang tinggal di Jakarta, hari berikutnya Ibu mengajakku ke arena bermain yang Aku inginkan. Seharian penuh kami habiskan untuk bermain di arena bermain dan sorenya ke pantai. hari itu adalah hari yang paling berkesan. Aku bisa berlibur ke tempat yang Aku inginkan bersama Ibu tercinta. Kebahagiaan itu rasanya belum lengkap ketika tidak adanya kehadiran Ayah. Aku baru sadar kalau tujuanku berlibur juga untuk bertemu dengan Ayahku.
Esok harinya ibuku mengajakku untuk kembli ke Bandung lagi. 2 hari di Bandung Aku dan Ibu hanya berdiam di rumah Om Asep. Sampai pada suatu sore Om Asep yang baru pulang kerja mengajakku pergi bermain katanya. Setelah mendapat persetujuan Ibu aku ikut dengan Om Asep
Om Asep mengendarai motornya menuju ke daerah yang benar-benar Aku tidak tahu. Sampai pada akhirnya motor Om Asep berhenti di dekat pemakaman, Aku semakin bingung, pikirku mungkin Om Asep ziarah ke makam temannya terlebih dahulu. Aku semakin bingung lagi ketika melihat papan nama di makam tersebut. Di papan nama itu tertulis dengan jelas nama Ayahku beserta nama kakekku. Aku yang masih berumur 8 tahun tidak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana. Aku hanya diam dengan sejuta tanda Tanya yang menyelimuti pikiraku. Akupun tidak berani menanyakannya kepada Om Asep.
            Seusai berdoa Om Asep mengajakku pulang. Aneh memang, apa maksud dari ini semua? Om Asep mengajakku ke makam yang bertuliskan nama Ayahku disana dan Om Asep tidak mengucapkan sepatah katapun ketika berada disana. Akhirnya kami sampai rumah, aku masuk dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya. Apa itu benar makam ayahku?? Apa ayahku sudah meinggal? entahlah, aku terlalu takut jika pertanyaanku nanti membuat Ibuku sedih. Aku tidak ingin melihat Ibuku sedih apalagi menangis.
            Malam harinya Ibuku mengajakku pergi kerumah teman lamanya. Sepanjang perjalanan aku dan ibuku hanya diam. Akhirnya aku memecahkan keheningan dengan menceritakan kejadian tadi siang. “bu, aku tadi diajak Om Asep ke makam trus dipapan nama itu tertulis nama Wawan Rahwan, kok seperti nama ayah ya bu?”, kataku. Dengan nada rendah ibuku menjawab: ” iya, itu memang ayahmu”.
            Hatiku rasanya seperti tertusuk ketika aku harus menerima kalau aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ayahku lagi. Aku hanya bisa memandangi tempat tidur abadi Ayahku dan berdoa kepada Allah agar Ayahku berada di tempat yang terbaik. Dan sampai seterusnya aku tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah.

Saturday, September 20, 2014

kerinduan

air mata tak dapat terbendung lagi, menetes membasahi pipi. Mengalir hangat bersama kerinduan yang mendalam. Rindu akan sosok yang sangat berharga di dalam hidupku. Dia adalah Ibu, pelita hidupku sepanjang masa. Tak pernah lelah menyayangi dan mengasihiku. Dari sejak pertama aku bisa merasakan dunia, kelembutan tangannya yang senantiasa menjagaku seakan tak ingin aku tergores sedikitpun. Hingga aku mulai tumbuh, mulai mengenal isi dunia, beliau setia mendampinngiku seorang diri. Mengajarkan aku dan membimbingku untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Dari tengkurap, merangkak, berbicara, berjalan, setiap perkembangan itu tak pernah luput dari pengawasannnya. Tak pernah ada kata lelah darinya. Kini aku mulai tumbuh menjadi gadis dewasa. Tumbuh menjadi gadis yang sudah mengenal taggung jawab. Tanggung jawab belajar untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Menjadi manusia yang lebih baik dari ibu, kata itulah yang sering keluar dari mulut ibu. Tetapi rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Kesuksesanku nantinya karena kesuksesan ibu dalam mendidikku. Dan kehebatanku karena hebatnya ibu dalam meyakinkanku untuk tetap beertahan dalam segala situasi.

Bertahan dalam kejamnya hidup di kota perantauan. Kota yang sebelumnya tidak pernah aku sambangi. Tetapi demi kesuksesan aku harus bertahan di tempat ini seorang diri. Menahan gejolak jiwa yang seakan memberontak untuk segera kembali ke kampung halaman. Menahan rindu yang sangat menusuk, rindu akan semua yang menghiasi hidupku disana, rindu akan permata hidup yang senantiasa mendampingiku. Tetapi rasanya aku harus menjadi seorang pembohong besar. Aku harus menyimpan serapi mungkin isak tangis yang memberontak ingin keluar ketika aku mendengar hangatnya perkataan ibu. Aku harus berkata bahwa aku baik-baik saja dan aku nyamaan disini walaupun dalam hatiku memberontak dan air mataku tak dapat terbendung. Aku sadar bahwa sebenarnya ibuku juga merasakan hal yang sama.

Thursday, September 18, 2014

Untukmu Sahabat

Sahabat..
masih ingatkah saat-saat pertama kali kita bertemu??
tak pernah terfikir sedikitpun dibenakku, pertemuan itu adalah awal memori indah
memori tantang indahnya cinta kasih persahabatan.
aku dan kamu memiliki latar belakang yang berbeda
kita juga memiliki sifat yang berbeda.
mungkin bayak orang yang bertaanya-tanya tentang kedekatan kita.
kebersamaan kita ibarat pena yang senantiasa menuliskan cerita di kertas.
entah itu cerita indah ataupun sebaliknya


sahabat..
langkah kakiku yang awalnya berat
langkah kakiku yang seakan kaku dan tak mampu lagi untuk beranjak
tanpa aku sadari kaki ini mulai ringaan untuk melangkah
melagkah menggapai bintang bersamamu,


sahabat...
ketika hatiku kaku, hatiku pilu
hatiku rindu akan orang-orang yang berharga di dalam hidupku.
engkau tak pernah lelah menghapus air mataku,
menggantikan air mata rindu menjadi seuntai senyuman indah,
senyuman yang menyadarkanku bahwa disisiku ada malaikat yang sagat berharga dihidupku

sahabat.....
ketika tangan ini mulai lelah.
kau tak pernah berhenti untuk menggenggamnya,
memeluk erat diri ini seakan tak ingin terlepas
menyalurkan hangatnya cinta kasih
cinta kasih yang seakan mengobati semua rasa lelah


sahabat,
ketika air mata ini tak dapat terbendung lagi,
mengingat memori indah yang terekam.
aku hanya berharap ini adalah air mata bahagia
air mata bangga dan bersyukur
bersyukur karena Tuhan menganugerahkan sosok sepertimu

sahabat..
mungkin khilafku sering menggores hatimu,
tapi sungguh jauh di lubuk hatiku, namamu tersimpan dengan jelas
memori-memori bersamamu tertata rapi di dalam hatiku,
aku hanya bisa berharap Tuhan akan selalu meridhoi setiap langkah kita.
 langkah yang tak selalu berjalan dengan mulus
terkadang salah satu dari kita tersandung bebatuan
tetapi ingatlah tangan ini tak akan lepas untuk membantu bangkit dan berdiri lagi
berjalan bersama dalam menggapai asa. ..

Dendam Pembawa Penyakit Hati

Dendam. kata itu yang sering muncul ketika hati tersakiti oleh orang lain. ketika hati tak mampu mengucapkan kata maaf, walaupun lisan sudah berucap memaafkan. dendam adalah pembawa penyakit hati yang lama-kelamaan dapat meggerogoti jiwa manusia. suudzon, iri merupakan penyakit hati yang muncul ketika manusia tidak bisa meghindari dendam. sungguh jauh lebih mulia ikhlas memaafkan kesalahan orang lain dan berusaha introspeksi diri. tidak selamanya manusia itu benar pasti manusia pernah salah dan khilaf. tidak ada manusia yang sempurna. karena sejatinya kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.

Friday, August 29, 2014

Pertemuan Singkat dengan Sahabat lama



            Kring…. Suara HPku berbunyi. Ternyata ada SMS dari nomer Hp baru, setelah aku buka ternyata isinya,  “jun. via”. Ternyata SMS itu dari sahabat lamaku. Teman semeja semasa kita masih mengenakan seragam putih biru. Tak terasa sudah setahun semenjak pertemuan terakhir pada saat kita jalan bareng tahun lalu aku sudah benar-benar hilang kontak dengan dia. Betapa girangya aku saat itu, rasanya seperti menemukan sesuatu yang sudah hilang. Pantas saja kita sudah jarang bertemu karena memang jaraklah yang mengharuskan kita seperti ini. Via sekarang melanjutkan studynya di Universitas Indonesia sedangkan aku mendapatkan beasiswa di Universitas swasta di kota Semarang. Karena memang latar belakang keluarga kami sangatlah berbeda. Aku berasal dari keluarga sederhana yang hanya mengandalkan beasiswa untuk melanjutkan study yang sangat aku impikan. Sedangkan Via berasal dari keluarga mampu, tetapi semua itu tidak menghalangi persahabatan kami sedikitpun. Justru dengan perbedaan itulah persahabatan kami serasa lengkap.
            Via bilang dia ingin bertemu denganku karena dia sedang libur semester dan akhirnya dia mengajakku berenang. Beberapa waktu yang kita rencanakan gagal karena kesibukan masing-masing. Akhirnya hari kamis, 2 hari sebelum via balik ke Bogor kami berencana untuk berenang. Kami janjian untuk bertemu di rumahku jam 7 pagi. Jam 7 pas aku dan ibuku menunggu kedatangannya di depan rumah. Asyik berbincang-bicang dengan ibu, tiba-tiba berhenti mobil merah di depan rumahku. Dan ternyata pengemudi mobil itu adalah Via. Senang, bahagia, terharu bercapur jadi satu karena rasa rindu yang sangat dalam akhirnya terobati. Via memarkirkaan mobilnya dan dia turun untuk menyapa ibu dan kakakku. Ibuku sudah sangat kenal dengan via karena memanng sejak kelas 1 SMP kita sudah sering main bareng dan viapun juga sering main ke rumah. Dengan ramah dan tidak canggung sedikitpun via menyalami ibu dan kakakku. Setelah ngobrol sebentar kita beragkat untuk berenang. Sembari berenang kita saling menceritakan kehidupan baru kita masing-masing dan bernostalgia dengan beberapa kisah kami dan kejailan yang sering kami lakukan. Rasanya memoriku kembali kemasa silam, masa-masa indah bersamanya yang masih tersimpan rapi di memoriku. Membuatku seakan sadar perbedaan apapun tidak bisa memisahkan 2 orang sahabat yang saling menyayangi. Seusai berenang kami kembali kerumahku untuk melanjutkan obrolan kami. Karena memang aku lulusan dari SMK Farmasi dan Via sekarang melanjutkan study di jurusan Farmasi, dia banyak sharing tentang kuliahnya. Waktu sudah menunjukkan 10.30 dan via berpamitan kepada ibuku. Sedih memang aku harus berpisah dengan sahabatku lagi. Tetapi inilah hidup, Sahabat tak harus selalu bersama, kita harus meraih apa yang menjadi impian kita masing-masing. Pertemuan yang sangat singkat ini sedikit mengobati kerinduanku kepadanya, kepada seorang sahabat lama yang sangat berarti dalam  hidupku. Sahabat yang senantiasa menghiasi dalam setiap langkah perjalaan hidupku. Sahabat yang selalu hidup dalam hatiku.

Friday, August 1, 2014

Menengok Kebelakang Sembari Introspeksi Diri

Mulut ini tak selalu berkata baik. Kadang menyakiti, kadang menyinggung, kadang berkata kasar. Hanya dari perkataan kecil yang sering keluar dari mulut ini tak sedikit yang membuat orang lain sedih, membuat orang lain marah bahkan kecewa. Mulut ini terkadang membisu.,membisu untuk sekedar memanjatkan doa kepada sang pencipta dan mengagungkan namaNYA.

Mata ini tak luput dari dosa. Mata ini sering melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Entah dengan sengaja maupun tidak. Tidak dipungkiri terkadang justru kita malah menikmati apa yang seharusnya tidak pantas untuk kita lihat. Mata ini terkadang buta, buta melihat keagungan Tuhan dan sok buta melihat orang-orang yang membutuhkan.

Tangan ini tak selalu membelai lembut. Terkadang tangan ini malah bertindak kasar da menyakiti orang lain. Terkadang tangan ini juga lebih senang dibawah daripada diatas, untuk sekedar memberikan sebagian rizki yang sebenarnya adalah hak fakir miskan. Tangan ini juga terkadag terlalu kaku untuk menolong sesama manusia.

Telinga ini apalagi. Terlalu sering mendengar perkataan yang tak sepantasnya didengar. Dan telinga ini yang terkadang tuli, tuli mendengar seruanNya. Tuli untuk medengar perintahnya, tuli mendengarkan ajakan untuk senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. tetapi tidak tuli untuk mendengar ajakan syetan.

itulah sedikit potret diri yang patut kita renungkan bukan hal yang tidak mungkin kalau kita pernah melakukan salah satunya atau bahkan semuanya. karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.

Bukan seberapa banyak kesalahan yang kita lakukan tetapi bagaimana kita bisa introspeksi diri untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Selalu membenahi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan tidak terlalu larut dalam kesalahan tersebut. Karena orang yang hari ini lebih baik dari hari kemaren adalah orang yang beruntung

Sekarang, selagi masih ada waktu untuk introspeksi diri. Tinggalkan apa yang salah dan memang sepantasnya ditinggalkan. Tingkatkan Iman dan ketaqwaan kita. Segera bertaubat selagi nyawa masih berada di tubuh kita. Bukan bermaksud untuk menggurui, tetapi sebagai sesama manusia sudah sepantasnya untuk saling mengingatkan satu sama lain.