Tuesday, October 21, 2014

Tempat Tidur Abadi Ayahku



Sore hari yang indah Aku bersama Ibuku menonton salah satu acara televisi yang menayangkan beberapa tempat liburan. Namaku Nira, waktu itu aku baru berusia 8 tahun. Aku tertarik dengan salah satu permainan yang ditayangkan yaitu “halilintar”. Karena penasaran dengan perminan itu aku mengajak Ibu untuk pergi kesana, dan anehnya Ibuku langsung menyetujui padahal permainan itu berada di kota Jakarta. Kata Ibu sekalian kita akan berlibur ke Bandung juga
Bandung adalah kota kelahiran Ayahku. Sejak Ibu memutuskan untuk menetap di Jawa dan Ayahku tetap bekerja di Bandung, Aku hanya tinggal bersama Ibu. Terakhir aku bertemu dengan ayahku ketika aku berusia 1 tahun. Itupun kata Ibu karena aku sudah tidak ingat lagi. Jadi aku berpikir liburan kali ini Aku akan bertemu dengan Ayahku.
Liburan semester yang ditunggu akhirnya datang. Aku dan Ibu bersiap berangkat ke Bandung. Setelah menempuh peerjalanan sekitar 8 jam menggunakan kereta akhirnya Aku dan Ibu sampai di kota  Bandung.
sesampainya di kota Bandung Ibuku mengajakku kerumah Adik sepupu dari Ayahku, Om Asep namanya. Setelah istirahat sejenak aku diajak oleh Tante Ating, istri dari Om Asep untuk jalan-jalan desikitar rumah aku hanya mengiyakan. Sekembalinya Aku kerumah Om Asep aku melihat wajah Ibuku sedih dan matanya sembab seperti habis menangis. Tetapi Aku tidak memperdulikan itu. Merasa capeknya sedikit hilang, Aku ingat kalau Ibu janji akan megajakku liburan ke arena bermain yang berada di Jakarta. Aku langsung mengajak Ibu ke Jakarta agar bisa segera pergi ke arena bermain.
Setelah 3 hari Aku menginap di rumah saudara Ibu yang tinggal di Jakarta, hari berikutnya Ibu mengajakku ke arena bermain yang Aku inginkan. Seharian penuh kami habiskan untuk bermain di arena bermain dan sorenya ke pantai. hari itu adalah hari yang paling berkesan. Aku bisa berlibur ke tempat yang Aku inginkan bersama Ibu tercinta. Kebahagiaan itu rasanya belum lengkap ketika tidak adanya kehadiran Ayah. Aku baru sadar kalau tujuanku berlibur juga untuk bertemu dengan Ayahku.
Esok harinya ibuku mengajakku untuk kembli ke Bandung lagi. 2 hari di Bandung Aku dan Ibu hanya berdiam di rumah Om Asep. Sampai pada suatu sore Om Asep yang baru pulang kerja mengajakku pergi bermain katanya. Setelah mendapat persetujuan Ibu aku ikut dengan Om Asep
Om Asep mengendarai motornya menuju ke daerah yang benar-benar Aku tidak tahu. Sampai pada akhirnya motor Om Asep berhenti di dekat pemakaman, Aku semakin bingung, pikirku mungkin Om Asep ziarah ke makam temannya terlebih dahulu. Aku semakin bingung lagi ketika melihat papan nama di makam tersebut. Di papan nama itu tertulis dengan jelas nama Ayahku beserta nama kakekku. Aku yang masih berumur 8 tahun tidak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana. Aku hanya diam dengan sejuta tanda Tanya yang menyelimuti pikiraku. Akupun tidak berani menanyakannya kepada Om Asep.
            Seusai berdoa Om Asep mengajakku pulang. Aneh memang, apa maksud dari ini semua? Om Asep mengajakku ke makam yang bertuliskan nama Ayahku disana dan Om Asep tidak mengucapkan sepatah katapun ketika berada disana. Akhirnya kami sampai rumah, aku masuk dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya. Apa itu benar makam ayahku?? Apa ayahku sudah meinggal? entahlah, aku terlalu takut jika pertanyaanku nanti membuat Ibuku sedih. Aku tidak ingin melihat Ibuku sedih apalagi menangis.
            Malam harinya Ibuku mengajakku pergi kerumah teman lamanya. Sepanjang perjalanan aku dan ibuku hanya diam. Akhirnya aku memecahkan keheningan dengan menceritakan kejadian tadi siang. “bu, aku tadi diajak Om Asep ke makam trus dipapan nama itu tertulis nama Wawan Rahwan, kok seperti nama ayah ya bu?”, kataku. Dengan nada rendah ibuku menjawab: ” iya, itu memang ayahmu”.
            Hatiku rasanya seperti tertusuk ketika aku harus menerima kalau aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ayahku lagi. Aku hanya bisa memandangi tempat tidur abadi Ayahku dan berdoa kepada Allah agar Ayahku berada di tempat yang terbaik. Dan sampai seterusnya aku tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah.

No comments:

Post a Comment