Sore
hari yang indah Aku bersama Ibuku menonton salah satu acara televisi yang
menayangkan beberapa tempat liburan. Namaku Nira, waktu itu aku baru berusia 8
tahun. Aku tertarik dengan salah satu permainan yang ditayangkan yaitu
“halilintar”. Karena penasaran dengan perminan itu aku mengajak Ibu untuk pergi
kesana, dan anehnya Ibuku langsung menyetujui padahal permainan itu berada di
kota Jakarta. Kata Ibu sekalian kita akan berlibur ke Bandung juga
Bandung
adalah kota kelahiran Ayahku. Sejak Ibu memutuskan untuk menetap di Jawa dan Ayahku
tetap bekerja di Bandung, Aku hanya tinggal bersama Ibu. Terakhir aku bertemu
dengan ayahku ketika aku berusia 1 tahun. Itupun kata Ibu karena aku sudah tidak
ingat lagi. Jadi aku berpikir liburan kali ini Aku akan bertemu dengan Ayahku.
Liburan
semester yang ditunggu akhirnya datang. Aku dan Ibu bersiap berangkat ke
Bandung. Setelah menempuh peerjalanan sekitar 8 jam menggunakan kereta akhirnya
Aku dan Ibu sampai di kota Bandung.
sesampainya
di kota Bandung Ibuku mengajakku kerumah Adik sepupu dari Ayahku, Om Asep
namanya. Setelah istirahat sejenak aku diajak oleh Tante Ating, istri dari Om
Asep untuk jalan-jalan desikitar rumah aku hanya mengiyakan. Sekembalinya Aku
kerumah Om Asep aku melihat wajah Ibuku sedih dan matanya sembab seperti habis menangis.
Tetapi Aku tidak memperdulikan itu. Merasa capeknya sedikit hilang, Aku ingat
kalau Ibu janji akan megajakku liburan ke arena bermain yang berada di Jakarta.
Aku langsung mengajak Ibu ke Jakarta agar bisa segera pergi ke arena bermain.
Setelah
3 hari Aku menginap di rumah saudara Ibu yang tinggal di Jakarta, hari
berikutnya Ibu mengajakku ke arena bermain yang Aku inginkan. Seharian penuh
kami habiskan untuk bermain di arena bermain dan sorenya ke pantai. hari itu
adalah hari yang paling berkesan. Aku bisa berlibur ke tempat yang Aku inginkan
bersama Ibu tercinta. Kebahagiaan itu rasanya belum lengkap ketika tidak adanya
kehadiran Ayah. Aku baru sadar kalau tujuanku berlibur juga untuk bertemu
dengan Ayahku.
Esok
harinya ibuku mengajakku untuk kembli ke Bandung lagi. 2 hari di Bandung Aku dan
Ibu hanya berdiam di rumah Om Asep. Sampai pada suatu sore Om Asep yang baru
pulang kerja mengajakku pergi bermain katanya. Setelah mendapat persetujuan Ibu
aku ikut dengan Om Asep
Om
Asep mengendarai motornya menuju ke daerah yang benar-benar Aku tidak tahu.
Sampai pada akhirnya motor Om Asep berhenti di dekat pemakaman, Aku semakin
bingung, pikirku mungkin Om Asep ziarah ke makam temannya terlebih dahulu. Aku
semakin bingung lagi ketika melihat papan nama di makam tersebut. Di papan nama
itu tertulis dengan jelas nama Ayahku beserta nama kakekku. Aku yang masih
berumur 8 tahun tidak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana. Aku hanya
diam dengan sejuta tanda Tanya yang menyelimuti pikiraku. Akupun tidak berani
menanyakannya kepada Om Asep.
Seusai berdoa Om Asep mengajakku pulang. Aneh memang, apa
maksud dari ini semua? Om Asep mengajakku ke makam yang bertuliskan nama Ayahku
disana dan Om Asep tidak mengucapkan sepatah katapun ketika berada disana.
Akhirnya kami sampai rumah, aku masuk dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya.
Apa itu benar makam ayahku?? Apa ayahku sudah meinggal? entahlah, aku terlalu
takut jika pertanyaanku nanti membuat Ibuku sedih. Aku tidak ingin melihat Ibuku
sedih apalagi menangis.
Malam harinya Ibuku mengajakku pergi kerumah teman
lamanya. Sepanjang perjalanan aku dan ibuku hanya diam. Akhirnya aku memecahkan
keheningan dengan menceritakan kejadian tadi siang. “bu, aku tadi diajak Om
Asep ke makam trus dipapan nama itu tertulis nama Wawan Rahwan, kok seperti nama
ayah ya bu?”, kataku. Dengan nada rendah ibuku menjawab: ” iya, itu memang
ayahmu”.
Hatiku rasanya seperti tertusuk ketika aku harus menerima
kalau aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ayahku lagi. Aku hanya bisa memandangi
tempat tidur abadi Ayahku dan berdoa kepada Allah agar Ayahku berada di tempat
yang terbaik. Dan sampai seterusnya aku tidak akan pernah merasakan kasih sayang
seorang Ayah.
No comments:
Post a Comment