Friday, August 29, 2014

Pertemuan Singkat dengan Sahabat lama



            Kring…. Suara HPku berbunyi. Ternyata ada SMS dari nomer Hp baru, setelah aku buka ternyata isinya,  “jun. via”. Ternyata SMS itu dari sahabat lamaku. Teman semeja semasa kita masih mengenakan seragam putih biru. Tak terasa sudah setahun semenjak pertemuan terakhir pada saat kita jalan bareng tahun lalu aku sudah benar-benar hilang kontak dengan dia. Betapa girangya aku saat itu, rasanya seperti menemukan sesuatu yang sudah hilang. Pantas saja kita sudah jarang bertemu karena memang jaraklah yang mengharuskan kita seperti ini. Via sekarang melanjutkan studynya di Universitas Indonesia sedangkan aku mendapatkan beasiswa di Universitas swasta di kota Semarang. Karena memang latar belakang keluarga kami sangatlah berbeda. Aku berasal dari keluarga sederhana yang hanya mengandalkan beasiswa untuk melanjutkan study yang sangat aku impikan. Sedangkan Via berasal dari keluarga mampu, tetapi semua itu tidak menghalangi persahabatan kami sedikitpun. Justru dengan perbedaan itulah persahabatan kami serasa lengkap.
            Via bilang dia ingin bertemu denganku karena dia sedang libur semester dan akhirnya dia mengajakku berenang. Beberapa waktu yang kita rencanakan gagal karena kesibukan masing-masing. Akhirnya hari kamis, 2 hari sebelum via balik ke Bogor kami berencana untuk berenang. Kami janjian untuk bertemu di rumahku jam 7 pagi. Jam 7 pas aku dan ibuku menunggu kedatangannya di depan rumah. Asyik berbincang-bicang dengan ibu, tiba-tiba berhenti mobil merah di depan rumahku. Dan ternyata pengemudi mobil itu adalah Via. Senang, bahagia, terharu bercapur jadi satu karena rasa rindu yang sangat dalam akhirnya terobati. Via memarkirkaan mobilnya dan dia turun untuk menyapa ibu dan kakakku. Ibuku sudah sangat kenal dengan via karena memanng sejak kelas 1 SMP kita sudah sering main bareng dan viapun juga sering main ke rumah. Dengan ramah dan tidak canggung sedikitpun via menyalami ibu dan kakakku. Setelah ngobrol sebentar kita beragkat untuk berenang. Sembari berenang kita saling menceritakan kehidupan baru kita masing-masing dan bernostalgia dengan beberapa kisah kami dan kejailan yang sering kami lakukan. Rasanya memoriku kembali kemasa silam, masa-masa indah bersamanya yang masih tersimpan rapi di memoriku. Membuatku seakan sadar perbedaan apapun tidak bisa memisahkan 2 orang sahabat yang saling menyayangi. Seusai berenang kami kembali kerumahku untuk melanjutkan obrolan kami. Karena memang aku lulusan dari SMK Farmasi dan Via sekarang melanjutkan study di jurusan Farmasi, dia banyak sharing tentang kuliahnya. Waktu sudah menunjukkan 10.30 dan via berpamitan kepada ibuku. Sedih memang aku harus berpisah dengan sahabatku lagi. Tetapi inilah hidup, Sahabat tak harus selalu bersama, kita harus meraih apa yang menjadi impian kita masing-masing. Pertemuan yang sangat singkat ini sedikit mengobati kerinduanku kepadanya, kepada seorang sahabat lama yang sangat berarti dalam  hidupku. Sahabat yang senantiasa menghiasi dalam setiap langkah perjalaan hidupku. Sahabat yang selalu hidup dalam hatiku.

Friday, August 1, 2014

Menengok Kebelakang Sembari Introspeksi Diri

Mulut ini tak selalu berkata baik. Kadang menyakiti, kadang menyinggung, kadang berkata kasar. Hanya dari perkataan kecil yang sering keluar dari mulut ini tak sedikit yang membuat orang lain sedih, membuat orang lain marah bahkan kecewa. Mulut ini terkadang membisu.,membisu untuk sekedar memanjatkan doa kepada sang pencipta dan mengagungkan namaNYA.

Mata ini tak luput dari dosa. Mata ini sering melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Entah dengan sengaja maupun tidak. Tidak dipungkiri terkadang justru kita malah menikmati apa yang seharusnya tidak pantas untuk kita lihat. Mata ini terkadang buta, buta melihat keagungan Tuhan dan sok buta melihat orang-orang yang membutuhkan.

Tangan ini tak selalu membelai lembut. Terkadang tangan ini malah bertindak kasar da menyakiti orang lain. Terkadang tangan ini juga lebih senang dibawah daripada diatas, untuk sekedar memberikan sebagian rizki yang sebenarnya adalah hak fakir miskan. Tangan ini juga terkadag terlalu kaku untuk menolong sesama manusia.

Telinga ini apalagi. Terlalu sering mendengar perkataan yang tak sepantasnya didengar. Dan telinga ini yang terkadang tuli, tuli mendengar seruanNya. Tuli untuk medengar perintahnya, tuli mendengarkan ajakan untuk senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. tetapi tidak tuli untuk mendengar ajakan syetan.

itulah sedikit potret diri yang patut kita renungkan bukan hal yang tidak mungkin kalau kita pernah melakukan salah satunya atau bahkan semuanya. karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.

Bukan seberapa banyak kesalahan yang kita lakukan tetapi bagaimana kita bisa introspeksi diri untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Selalu membenahi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan tidak terlalu larut dalam kesalahan tersebut. Karena orang yang hari ini lebih baik dari hari kemaren adalah orang yang beruntung

Sekarang, selagi masih ada waktu untuk introspeksi diri. Tinggalkan apa yang salah dan memang sepantasnya ditinggalkan. Tingkatkan Iman dan ketaqwaan kita. Segera bertaubat selagi nyawa masih berada di tubuh kita. Bukan bermaksud untuk menggurui, tetapi sebagai sesama manusia sudah sepantasnya untuk saling mengingatkan satu sama lain.